Michael Saylor Ungkap Alasan Masuk Bitcoin: “Bukan Perang Melawan COVID, Tapi Perang Melawan Mata Uang”
Michael Saylor, pendiri MicroStrategy, mengatakan bahwa pandemi COVID-19 dan kebijakan moneter AS mendorongnya beralih ke Bitcoin pada 2020.
Dalam wawancara bersama Jordan B. Peterson yang tayang Senin (6/6), Saylor menjelaskan bahwa lockdown global dan suku bunga nol membuatnya sadar bahwa memegang uang tunai adalah pilihan yang merugikan.
“Bukan perang melawan COVID, tapi perang melawan mata uang,” ujar Saylor.
Saylor mengungkap bahwa MicroStrategy saat itu memegang $500 juta dalam bentuk uang tunai. Namun, karena suku bunga mendekati nol akibat intervensi Federal Reserve, uang tersebut tidak menghasilkan keuntungan.
“Bank sentral mencetak uang dan memaksa suku bunga turun,” katanya.
Ia menyebut kondisi itu sebagai “hiperinflasi pada aset keuangan”, di mana Wall Street kaya raya, tetapi bisnis kecil dan pekerja justru hancur.
Menolak Perlahan Mati
Saylor merasa dihadapkan pada dua pilihan: mati cepat atau mati perlahan. Maka ia memutuskan untuk memilih “bertarung”.
“Saya butuh aset cair, fungibel, dan mampu menyimpan energi ekonomi saya tanpa batas waktu.”
Ia sempat mempertimbangkan properti, saham, hingga seni lukis mahal seperti Picasso dan Monet, tapi semuanya sudah terlalu mahal di era suku bunga nol.
Dari Skeptis Jadi Pendukung Bitcoin
Awalnya Saylor menganggap Bitcoin hanyalah “koin tipu-tipu” saat pasar kripto jatuh tahun 2018. Namun, setelah berkonsultasi dengan temannya, Eric Weiss, dan mempelajari Bitcoin dari YouTube, podcast, dan buku, pandangannya berubah.
Ia menyadari bahwa Bitcoin adalah penyimpan nilai non-sovereign yang lebih unggul daripada emas.
Pembelian Bitcoin Pertama MicroStrategy
MicroStrategy membeli 21.454 BTC senilai $250 juta pada Agustus 2020. Sejak saat itu, perusahaan terus menambah kepemilikan Bitcoin-nya.
Kini, MicroStrategy menjadi perusahaan publik dengan kepemilikan Bitcoin terbesar di dunia: 582.000 BTC, senilai sekitar $63 miliar menurut Saylor Tracker.